Memaknai Belajar

Belajar yang oleh rasulullah SAW kita diperintahkan untuk mencarinya, meski sangat jauh di negeri china sekalipun, meskipun sangat lama, selama hayat masih dikandung badan, menunjukkan betapa sangat pentingnya ilmu itu untuk dikuasai. Sebab dengan ilmu, kita bisa mempertahankan hidup, bisa memudahkan kita di dalam perjanan hidup. Baik dalam kehidupan di dunia ini, maupun kehidupan kita di akhirat kelak.
Berbicara lebih jauh mengenai ilmu, kita dapat mencarinya di mana saja, kapan saja, dan pada situasi apa saja. Bahkan pada saat mencari ilmu itu sendiri, kita sudah mendapatkan ilmu.

Salah satu contoh, saat seorang bayi yang baru lahir, melalui insting atau nalurinya ia menangis karena lapar atau haus, kemudian ibunya menyusuinya untuk pertama kali, pada saat pertama kali bayi menyusu inilah yang dimaksud dengan belajar. kemudian setelah agak besar, mulailah si bayi tengkurap, duduk dan seterusnya.
kayla nagitha belajat mberangkang Setiap kita mengalami suatu kejadian, tentulah di sana terdapat ilmu yang kalau kita mau bisa kita ambil. Mengapa menggunakan kalimat 'kalau kita mau'? Sebab terkadang kita masa bodoh, atau kita tidak menghiraukannya. Sehingga sesuatu yang semestinya bisa menjadi pelajaran atau pengalaman, karena kita tak menghiraukannya, maka ketika kita mengalami kejadian yang sama, kita pun kebingungan, persis seperti saat mengalami kejadian tersebut waktu pertama kali.
Seperti kata pepatah, "keledai tak akan terperosok ke dalam lubang yang sama". Sedangkan hewan yang namanya keledai sudah menjadi simbol atau lambang kebodohan.
Seandainya bila ada manusia yang terperosok ke lubang yang sama, padahal manusia adalah mahluk Allah SWT yang paling sempurna, lantas di mana otaknya di simpan ya?
Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita semua, umat muslim, untuk menuntut ilmu walau sampai ke negeri china, supaya menjadi manusia yang pandai, dan terlebih-lebih lagi agar jangan sampai dikalahkan hewan sebodoh keledai.