Memang betul, putus cinta itu teramat sangat menyakitkan. Lukanya nyaris tanpa obat. Perihnya sangat sulit dihilangkan bahkan bisa terus membekas sepanjang hidup. Tak seorang pun yang menginginkannya, kecuali orang yang sudah bosan pada pasangannya (itu sih, bukan cinta namanya).
Tapi, putus cinta bukanlah segalanya. Sebesar apapun cinta kita padanya, sedalam apapun luka yang ditimbulkan di dalam hati, ketika putus cinta itu terjadi, apakah harus membuat kita hancur?
Nggak lah yaw !!! Sebab, hampir semua orang pernah merasakan perihnya. Dan hanya segelintir orang saja yang beruntung yang dapat merasakan indahnya cinta pertama sampai akhir hayatnya. Ingatlah, ada awal dan ada akhir, ada pertemuan dan ada perpisahan. Ada satu pepatah CINTA TAK HARUS MEMILIKI. (Ah, itu kan kata-kata mutiara bagi si pecundang, lagian mana enak, cinta tapi tak memiliki. Sama saja dengan pungguk merindukan bulan)......... yah terserah !!!
Salah satu contoh pecundang atau pungguk merindukan bulan :
Kahlil Gibran menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama May Ziadeh. Sampai menghembuskan nafas terakhirnya, kaduanya tak pernah bertemu muka. Sekali pun tidak pernah. Bahkan sejarah mencatat kisah cinta abadi mereka melalui surat -surat mereka.
hehehe........mau bilang apa, hayo...